#RamadhanKarim 1: Puasa Pertama Mbak Mima

Umi masih belum beranjak. Duduk bersilah di atas kasur sambil memangku adik Clay. Sarung dan songkok Abi belum juga lepas. Abi masih siap-siap untuk baca surah AlBaqoroh ayat 71.

Baru lima menit yang lalu Abi, Mima dan adik Kodi menghirup udara subuh pertama Ramadhan di Desa Siwalanpanji.

Klik… srupt… Mima membuka botol minum gambar unicorn, lalu di-sruput airnya. Air yang paling anti Abi minum karena banyak residu sisa makanan.

Mima habis minum?” Abi tanya.

Mulutnya mengembung, bola matanya celingak-celinguk, kiri-kanan.

Buang, Mima! Jangan ditelen!” Kata Umi agak sedikit nge-gas. Untuk adik Clay yang lagi nenen dipangku Umi gak kaget dan bangun.

Tapi ternyata mulut Mima sudah mengempis sedikit demi sedikit.

Mima lupa ya?” Abi tanya lagi.

Mima diem aja. Mukanya agak cemas.

Gak apa-apa kalo Mima lupa, sayang. Tapi nanti jangan minum atau makan ya. Sampai adzan Magrib.” Kata Abi kayak malaikat baik hati. Mima cuma mengangguk.

Sini, sayang.” Tangan Abi melambai-lambai. Lalu Mima mendekat.

Abi mencondongkan badan dan menangkupkan tangan di telinga Mima, “Nanti kalo Mima puasanya pinter, ada hadiah dari Abi.” Kata Abi lirih di dekat telinga Mima.

Apa Abi Hadi…?” Mima antusias, tapi Abi memotong sambil mengangkat telunjuk.

Sssttttt! Jangan keras-keras, kan puasa cuma Abi dan Mima.

Abi melirik ke adik Kodi yang kepalanya masih mendongak, tangannya masih sibuk dengan tetes terakhir susu Colagena sisa sahur Abi.

Lalu Mima meniru gerakan Abi, “Sssstttttt!

Pokoknya sesuai yang Abi bisikan ke Mima ya.” Kata Abi menekankan lagi.

Lampu gelap, kita lanjutkan kebiasaan buruk. Yup! Tidur lagi sehabis subuh.

Posted in

Tinggalkan komentar